Refleksi Pendidikan

Pilihan Menjadi Guru

Beberapa waktu lalu saya membaca buku kumpulan tulisan Ayah Edi (Konsultan Parenting – yang menggagas gerakan Indonesian Strong from Home). Ada satu tulisan yang membuat saya ter’henyak” yakni tentang plihan program pendidikan saat akan memasuki dunia perguruan tinggi. Mengapa saya menaruh perhatian pada bagian ini?…karena hampir setiap minggu saya dan rekan-rekan psikolog lainnya di Fakultas Psikologi USU memberikan saran-saran kepada siswa kelas 3 (sekarang kelas XII) SMA dalam penelusuran minat dan bakat (untuk penentuan jurusan di PT). Ada berbagai aspek dalam pertimbangan tersebut yang biasa saya dan sejawat paparkan, yakni kecerdasan (kemampuan intelektual), kepribadian serta sikap kerja (sikap saat menghadapai/melakukan suatu tugas).

Dalam tulisan saya kali ini akan menyoroti aspek kecerdasan. Selama pengalaman saya (yang masih minim) seringkali siswa-siswa yang terbilang cerdas cenderung menyukai bidang-bidang yang berkaitan dengan teknik dan kedokteran. Mengapa demikian? tentunya informasi sangat mempengaruhi minat mereka, terutama informasi yang berkembang diantara teman-teman satu sekolah atau satu bimbingan mereka. Kedua bidang tersebut menjadi favorit dan memiliki passing grade yang tinggi. Kembali ke buku yang saya baca yang membuat saya ter”henyak”. Di Buku tersebut, Ayah Edi yang bediskusi dengan teman lamanya membahas pilihan studi. Menurut temannya Ayah Edi (yang merupakan Alumnus ITB) bahwa saat ini siswa yang sangat pintar cenderung memilih jurusan Teknik, yang pintar memilih bidang-bidang ekonomi seperti akuntansi dsb, yang agak pintar memilih ilmu-ilmu sosial, yang merasa kurang pintar lebih memilih jurusan pendidikan (IKIP dulu), yang yang agak kurang pintar (hehe..saya lupa bahasanya bapak tu) memilih semisal IAIN. Menurutnya itu terbalik..lho mengapa terbalik??? Menurut pengalamannya justru sarjana teknik tidak terlalu membutuhkan pemikiran yang mendalam karena ilmu-ilmunya sudah pasti dan polanya kan terus seperti itu sepanjang zaman (kalo masalah penemuan baru tentunya sangat berhubungan dengan kreativias ya..). Nah sebenarnya yang paling membutuhkan analisis dan membutuhkan pemikiran yang tajam adalah masalah-masalah ilmu sosial yang terus berkembang seiring berkembanganya dinamika kemasyarakatan, permasalahan dulu dan sekarang akan berbeda dan pendekatan penyelesaiannya akan berbeda pula. Nah, yang paling aneh ni (yang jadi objek pembahasan saya) guru lah yang harusnya lebih pintar dari mereka-mereka itu, karena mereka harus menyampaikan ilmu dan menyuburkan benih-benih semangat belajar.. kalo gurunya terlahir dari kalangan intelektual kelas bawah gimana jadinya bangsa ini..

Saya ingat kata-kata Munif Chatib (Penulis buku Sekolahnya Manusia) yang menyatakan bahwa bangunan makro pendidikan terdiri dari unit-unit mikro yang bernama sekolah..Nah di sekolah ini kan yang perannya sangat besar tentunya salah satunya guru..kalo gurunya ga berkualitas gimana murid2nya ya??..muridnya kan anak2 kita juga nanti..masa sih kita mau menitipkan anak-anak kita yang cerdas kepada guru yang kualitas nomor sekian (hehe..bukan mau mengecilkan guru – karena saya juga guru-hehe)..Oleh karena itu, mari kita memberikan pengertian kepada orang-orang terdekat di lingkungan kita bahwa menjadi guru bukan pilihan terakhir (bukan karena ga ada kerjaan lain)..Guru sangat berperan dalam proses peningkatan kualitas manusia.. danjangan lupa mengarahkan orang-orang cerdas nan berbakat untuk menjadi guru. Kepada rekan sejawat psikolog, mari kita pikir ulang untuk memberi saran-saran kepada klien yang datang terutama yang cerdas, untuk tidak melulu hanya menyarankannya ke bidang-bidang ber-passing grade tinggi..

Wassalam. semoga bermanfaat



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s