Konsep Diri Siswa Underachiever


Oleh : Tarmidi, S.Psi

Mahasiswa Program Pascasarjana F.Psi Univ. Indonesia

Underachievement

Definisi

Rimm (dalam Del Siegle & McCoah, 2008) menyatakan bahwa ketika siswa tidak menampilkan potensinya, maka ia termasuk Underachiever. Siswa yang Underachiever seringkali salah dinilai sebagai siswa berkesulitan belajar (McCall et al, 1992; Ross, 1995 dalam Peters & Boxtel, 1999). Reis dan McMoach (2000 dalam Robinson, 2006) mendifinisikan underachievement sebagai kesenjangan akut antara potensi prestasi (expected achievement) dan prestasi yang diraih (actual achievement). Untuk dapat diklasifikasikan sebagai underachiever, kesenjangan antara potensi dan prestasi tersebut bukan merupakan hasil diagnosa kesulitan belajar (learning disability) dan terjadi secara menetap pada periode yang panjang (Robinson, 2006). Underachiever ini juga tidak dikaitkan dengan adanya perubahan hormonal menjelang remaja. Saat ini belum ada metode yang tepat yang dapat digunakan psikolog pendidikan untuk mengidentifikasi underachiever (Ross dalam Peters & VanBoxtel, 1999). Secara operasional, underachievement dapat didefinisikan sebagai kesenjangan antara skor tes inteligensi dan hasil yang diperoleh siswa di sekolah (Peters & VanBoxtel, 1999)

Penyebab Underachiever

Butler-Por (dalam oxfordbrooks.ac.uk, 2006) menyatakan bahwa underachievement bukan disebabkan karena ketidakmampuan untuk melakukan sesuatu dengan lebih baik, tetapi karena pilihan-pilihan yang dilakukan dengan sadar atau tidak sadar. Pernyataan ini dijelaskan oleh penelitian McClelland, Yewchuk dan Mulcahy (dalam oxfordbrooks.ac.uk, 2006) yang menyatakan bahwa ada dua set utama yang mempengaruhi performa underachiever, yaitu (a) faktor emosi dan motivasi, dan (b) faktor yang berhubungan dengan strategi belajar. McClelland dan rekannya percaya bahwa ketika faktor-faktor pada kedua set tersebut berkombinasi dan saling berinteraksi, bisa menjadi konsekuensi yang paling kuat untuk mencegah siswa menjadi underachiever (dalam oxfordbrooks.ac.uk, 2006).

a. Faktor Emosi dan Motivasi

Yang termasuk dalam faktor ini adalah (dalam oxfordbrooks.ac.uk, 2006)

  1. Tidak menyadari potensinya, sehingga mereka kurang memahami dirinya dan orang lain (Buteler-Por, 1987)
  2. Mempunyai harapan/target yang terlalu rendah (Montgomery, 1996), sehingga membuat mereka tidak mempunyai tujuan dan nilai yang jelas (Butler-Por, 1987).
  3. Mempunyai self-esteem yang rendah, dan menjadi peka terhadap penilaian orang lain (Butler-Por, 1987).
  4. Pernah mengalami ‘high incident of emotional difficultiies’ (Pringle, 1970), dan membuat mereka depresi atau cemas (Butler-Por, 1987).
  5. Tidak termotivasi untuk berprestasi di sekolah (Montgomery, 1996).
  6. Takut mengalami kegagalan (Montgomery, 1996).
  7. Takut mengalami kesuksesan (Montgomery, 1996)
  8. Menyalahkan orang lain (Montgomery, 1996)

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pada siswa yang mempunyai kecenderungan underachievement akan mengalami self-fullfilling yang makin memperkuat pola underachievement pada diri mereka. Individu yang tidak menyadari potensi dirinya akan menjadi lebih tertekan bila diberikan komentar seperti “kamu bisa melakukannya dengan lebih baik” akan membuat mereka melajutkan kecenderungan underachievement (oxfordbrooks.ac.uk, 2006).

b. Faktor yang berkaitan dengan Strategi Belajar

Berikut merupakan faktor yang berhubungan dengan bagaimana indvidu belajar yang dikemukakan McClelland, Yewchuk dan Mulcahy (dalam oxfordbrooks.ac.uk, 2006)

  1. Tidak bisa menampilkan performa yang baik dalam situasi tes.
  2. Meraih prestasi dibawah harapan dalam salah satu pelajaran, sebagian atau keseluruhannya.
  3. Mengumpulkan tugas yang belum selesai atau yang dikerjakan secara asal-asalan.
  4. Menghindari untuk mencoba hal-hal baru.
  5. Mempunyai kecenderungan perfeksionis dan self-critism.
  6. Kesulitan untuk bekerja dalam kelompok.
  7. Membuat tujuan yang tidak realistis, terlau tinggi atau terlalu rendah.
  8. Tidak menyukai kegiatan yang membutuhkan latihan teratur, mengingat dan yang membutuhkan penguasaan keahlian tertentu.
  9. Sulit untuk memberikan atensi dan berkonsentrasi dalam tugas.
  10. Sulit menjalin dan mempertahankan hubungan persahabatan dengan teman-teman sebayanya.

Karakteristik Siswa Underachiever

Karakteristik utama yang dihubungkan dengan anak underachiever adalah rendahnya self-esteem (Preckle & Vock, 2006; Trevallion, 2008). Pernyataan tersebut juga dipertegas oleh Butler-Por; McCall, Evahn & Kratzer (dalam Adams, 1997) yang menyatakan bahwa salah satu karakteristik kepribadian siswa underachiever adalah rendahnya konsep diri. Siswa biasanya menutupi ini dengan mengembangkan mekanisme pertahanan diri (defence mechanism) seperti bertindak agresif ataupun membuat keributan/lelucon di kelas.

Karakteristik sekunder yaitu biasanya mereka memperlihatkan perilaku menghindar. Mereka sering mengatakan bahwa pelajaran di sekolah tidak relevan atau tidak penting karena itu mereka biasanya lebih tertarik kegiatan selain kegiatan sekolah. Kaufman (dalam Trevallion, 2008) menyatakan bahwa karakteristik ini tampil dalam dua arah yaitu agresif atau menghindar. Mereka juga akan memperlihatkan ketergantungan seperti tergantung pada orang lain untuk menyelesaikan tugasnya.

Karakteristik tersier siswa underachiever antara lain buruknya keahlian dalam tugas-tugas sekolah, kebiasaan belajar yang buruk, memiliki masalah penerimaan oleh teman sebaya, konsentrasi yang buruk dalam aktivitas sekolah, tidak bisa mengatur diri baik di rumah maupun di sekolah, mudah bosan, “meninggalkan” kegiatan kelas, memiliki kemampuan berbahasa oral yang baik, tapi buruk dalam menulis, mudah terdistraksi dan tidak sabaran, sibuk dengan pikirannya sendiri, kurang jujur, sering mengkritik diri sendiri, mempunyai hubungan pertemanan yang kurang baik, suka bercanda di kelas (membuat keributan), ramah terhadap orang yang lebih tua, dan berperilaku yang tidak biasa.

Mengatasi Siswa Underachiever

Model trifokal yang diajukan Rimm (dalam Joan, 2004) adalah salah satu pendekatan yang paling komprehensif untuk mengatasi siswa yang underachiever. Model ini melibatkan individu sendiri, lingkungan rumah dan sekolah. Masing-masing pihak yang terlibat tersebut diikutsertakan dalam program trifokal ini, sehingga setiap orang yang diperkirakan berkontribusi terhadap masalah underachiever dapat menyelesaikan masalah anak dengan leih komprehensif (dalam Bakers, Bridger & Evans, 1998). Agar dapat mengatasi siswa underachiever dengan tepat, maka diperlukan intervensi yang berbeda pada setiap kasus karena menurut Hansford (dalam Joan, 2004) underachievement sangat spesifik pada individu masing-masing.

Beberapa literatur menyatakan bahwa underachievement adalah pola perilaku yang dipelajari dan tentunya dapat juga diubah (Gallagher, 2005; Joan, 2004). Coyle (2000 dalam Trevallion, 2008) menyatakan bahwa untuk meningkatkan prestasi anak underachiever dapat dilakukan dengan membangun self-esteem, meningkatkan konsep diri, meningkatkan motivasi intrinsik dan ekstrinsik, mengajari cara belajar (study skills), manajemen waktu dan mengatasi kekurangannya dalam hal akademik. Pringle (dalam oxfordbrooks.ac.uk, 2006) juga menyatakan hal yang sama, bahwa untuk mengatasi siswa underachiever dapat dilakukan oleh guru dengan meningkatkan konsep diri dan moral siswa, memberikan dukungan, memberikan kesempatan untuk mengerjakan sesuatu dengan bebas, ataupun membuat suasana belajar yang menyenangkan. Jika guru bersikap negatif terhadap siswa underachiever ataupu kurang memperhatikan mereka, akan berakibat makin menguatnya pola underachievement pada siswa tersebut.

Konsep diri

Remaja awal diketahui sebagai masa penyesuaian, dan konsep diri yang negatif akan membuat siswa pada masa ini akan mengalami kegagalan akademis di masa yang akan datang (Wigfield & Eccles dalam Adams, 1997). Self esteem dan dan self-concept sangat berhubungan dan biasanya digunakan secara bertukar. Menurut Snow dan Jackson (dalam Adams, 2007), konsep diri (self-concept) adalah sejauh mana ia mengetahui dirinya (individual’s self- knowlwdge), dan self-esteem adalah persepsi individu harga diri dan penghormatan terhadap dirinya dan kualitas perasaan individu terhadap kedua hal tersebut.

Menurut Branden (1998), konsep diri adalah siapa dan apa yang individu pikirkan mengenai diri sendiri baik secara sadar maupun tidak sadar, mencakup trait fisik dan psikologi serta kelebihan dan kekurangannya. Harter (dalam Papalia, 2007) juga menjelaskan bahwa konsep diri merupakan konstruksi kognitif yang menggambarkan dan menilai diri. Konsep diri diperoleh dari hasil belajar, oleh karena itu konsep diri biasanya menetap dan konsisten. Persepsi tentang diri mengarahkan perilaku seseorang, dan individu akan berperilaku sesuai dengan persepsinya tersebut (Purkey dalam Adams, 1997). Konsep diri berkorelasi dengan prestasi (Snow & Jackson, 1992; Guerin et al., 1994; McCall, Evahn & Kratzer, 1992 dalam Adams, 1997), motivasi (Raffini, 1993), dan tujuan pribadi (Lazarus, 1991 dalam Adams, 1997). Perbaikan konsep diri akan mengarahkan peningkatan penyesuaian diri dan prestasi (Snow & Jackson, 1992; Guerin et al., 1994; McCall, Evahn & Kratzer, 1992 dalam Adams, 1997)

Konsep diri akademik

Bagi anak-anak dan remaja, sekolah merepresentasikan konteks yang paling kritis selain keluarga dalam pengembangan persepsi diri (Purkey dalam Elabum & Vaughn, 2001). Pengalaman di sekolah mempengaruhi persepsi siswa terhadap kemampuan akademis, penerimaan social, popularitas, perilaku, self-efficacy, dan bahkan ketertarikan fisik (Elabum & Vaughn, 2001). Pesepsi siswa terhadap kemampuan akademiknya akan mempengaruhi performa mereka di sekolah, motivasi terhadap tugas akademik, orientasi karir, dan perkiraan keberhasilan di masa depan. Perasaan anak tentang dirinya selama di sekolah bisa mempengaruhi perkembangan konsep dirinya terutama konsep diri akademiknya (Swann dalam Elabum & Vaughn, 2001).

Hattie (Kavale, & Mostert, 2004) mendefenisikan konsep diri akademik sebagai penilaian individu dalam bidang akademik. Penilaian tersebut meliputi kemampuan dalam mengikuti pelajaran dan berprestasi dalam bidang akademik, prestasi akademik yang dicapai individu, dan aktivitas individu di sekolah atau di dalam kelas. Huit (2004) juga menjelaskan bahwa konsep diri akademik menunjukkan seberapa baik performa individu di sekolah atau seberapa baik dirinya belajar.

Shaffer (2002) menjelaskan bahwa pada awal masa kanak-kanak, individu mulai membangun konsep dirinya yakni satu set keyakinan mengenai karakteristik mereka. Penelitian Keller, Ford, dan Meacham (dalam Shaffer, 2002) menunjukkan bahwa anak-anak prasekolah menggambarkan diri mereka berdasarkan karakteristik yang konkrit, seperti nama, penampilan fisik, kepemilikan, dan perilaku yang khas pada mereka. Usia 8-11 tahun anak mulai menggambarkan dirinya berdasarkan karakternya. Mereka mulai mengurangi penekanan terhadap perilakunya dan mulai menonjolkan kemampuannya. Misalnya “ saya dapat mengerjakan ulangan dengan baik”. Mereka juga mulai menggambarkan dirinya berdasarkan sifat-sifat psikologis. Hal tersebut dimulai dari penggambaran kualitas secara umum, seperti “pintar” dan “bodoh”. Selajutnya pada usia remaja, penggambaran diri merekapun berubah. Contoh “saya tidak terlalu pintar dalam matematika, “Saya senang dengan pelajaran sejarah”.

Faktor yang mempengaruhi konsep diri akademik

Shaffer (2002) menjelaskan bahwa inti dari perkembangan konsep diri seseorang berasal dari interaksinya dengan orang lain. Coley & Mead (dalam Shaffer, 2002) mengemukakan bahwa “diri” (self) adalah perpaduan antara apa yang seseorang pikirkan mengenai pikiran orang lain terhadap dirinya. Harter (dalam Papalia, 2007) menyatakan bahwa anak akan membentuk gambaran dirinya berdasarkan penilaian yang diberikan orang lain kepada dirinya. Hal tersebut mulai terbentuk pada masa kanak-kanak.

Konsep diri, khususnya konsep diri akademik sangat tergantung pada cara seseorang mengartikan keberhasilan dan kegagalan mereka, yang disebut sebagai achievement attribution (Shaffer, 2002). Weiner (dalam Shaffer, 2002) menemukan bahwa remaja cenderung mengartikan keberhasilan atau kegagalan mereka berdasarkan empat kemungkinan, yaitu kemampuan (ability), usaha (effort), tingkat kesulitan (task difficulty), atau keberuntungan (luck).

Setiap anak pernah menghadapi situasi atau tugas baru, namun tidak semua anak mampu menguasai situasi atau tugas baru tesebut. Selanjutnya, persepsi anaka terhadap kegagalan dan keberhasilan yang mereka hadapi pun tidak sama.

Dweek (Dalam Shaffer, 2002) mengemukakan dua kelompok anak ketika menghadapi situasi tersebut, yakni mastery oriented dan learned-helplessness oriented. Anak-anak dalam kelompok mastery oriented menilai keberhasilan mereka merupakan hasil dari kemampuan yang mereka miliki, namun cenderung menyalahkan factor yang diluar dirinya ketika menemui kegagalan, atau berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia dapat menunjukkan hasil yang lebih baik bila berusaha lebih giat. Anak-anak dalam kelompok tersebut memiliki motivasi yang tinggi untuk menguasai tugas baru, tanpa menghiraukan keberhasilan atau kegagalan yang pernah dialami sebelumnya.

Sebaliknya, anak-anak dalam kelompok learned-helplessness oriented, menilai keberhasilan mereka bukan sebagai hasil dari kerja keras, melainkan keberuntungan, mereka tidak merasakan kebanggaan karena tidak mengenal kemampuan yang mereka miliki. Anak-anak tersebut menilai kegagalan sebagai sesuatu yang menetap yang disebabkan karena ketidakmampuan mereka. Sebagai akibatnya, mereka merasa frustrasi ketika ketika mengalami kegagalan dan hanya melohat sedikit alsan untuk mencoba memperbaikinya. Penelitian Henry (2005) menunjukkan bahwa anak yang merasa tidak berdaya (helpless) menggunakan strategi problem solving yang kurang efektif dan lebih terfokus pada hasil yang telah didapt sebelumnya. Dweck (dalam Shaffer, 2002) juga menjelaskan bahwa orantua dan guru seringkaali tanpa sengaja turut mengembangkan helplessness achievement orientation. Keadaan tersebut muncul ketika orang tua dan guru tidak memuji keberhasilan seorang anak karena kerja keras mereka dan mengkritik kegagalan mereka karena ketidakmampuannya.

Konsep diri akademik siswa underachiever

Underachievement terjadi karena kegagalan individu untuk merealisasikan diri (ReisDel Siegle & McCoah, dalam Gallager, 2005), karenanya underachievement dapat dilihat sebagai dampak dari perkembangan emosi yang berinteraksi dengan status kognisi yang mengarahkan ke keadaan underachievement (Gallager, 2005). Salah satu faktor yang sering muncul pada siswa underachiever adalah rendahnya self-image dan buruknya self-esteem (Clark, 1992; Davis & Rimm, dalam Gallager, 2005). Konsep diri yang positif terbentuk dari prestasi (Gallager, 2005). Hasil tinjauan literartur yang dilakukan Lau dan Chan (2001) juga menunjukkan hal yang sama, bahwa dari berbagai karakteristik siswa underachiever yang diajukan oleh berbagai peneliti, temuan yang paling konsisten adalah rendahnya konsep diri atau self-esteem mereka, terutama pada area konsep diri akademik.

Memang hubungan konsep diri akademik dengan kecenderungan underachievement bersifat resiprokal (Bynre, 1984; Marsh & Yeung, 1997 dalam Lau & Chan, 2001). Siswa yang underachiever tidak percaya bahwa mereka mempunyai kemampuan untuk berprestasi, karenanya mereka tidak berusaha keras untuk belajar dan mudah menyerah ketika menghadapi kegagalan. Kemudian kegagalan dalam bidang akademik akan membuat mereka tidak percaya diri dalam belajar sehingga mereka kehilangan konsep dirinya. Hubungan yang negatif antara konsep diri akademik dengan prestasi menjadi lingkaran yang membuat pola underachievement sulit diputus.

Daftar Referensi

Adams, JE. (1997). A Study to Determine the Impact of Precollege Intervention on Early Adolescent Aspiration and Motivation for College in West Virginia. Blacksburg: Virginia Polytechnic Institute and State University: disertation. (www.schoolar.lib.vt.edu)

Branden, J.D. (1998). The Six Pillars of Self-esteem. New York: Bantam Book

Burnett, Paul C., Craven, Rhonda G., Marsh, Herbert W. (1999). Enhancing students’ self-concepts and related constructs: The need for a critical longitudinal analysis capitalising on and combining promising enhancement techniques for educational settings. www.aare.edu.au

Elbaum, Batya., Vaughn, Sharon. (2001). School-based interventions to enhance the self-concept of students with learning disabilities: a meta analysis. The Elementary School Journal; Jan 2001; 101, 3; Academic Research Library pg. 303

Gallagher, Gay. (2005). Underachievement-How Do We Define, Analyse, and Address it in Schools?: a view through the lens of the literature in gifted education. ACEpapers. March 2005 Issue 15. (www.education.auckland.ac.nz)

Graham, Philip.(editor).(1998). Cognitive-Behaviour Therapy for Children and Familiies. Cambridge: Cambridge University Press

Henry, AR.(2005). Self-Esteem & Academic Achievement in African American Student with Learning Disabilities. Master Degree Research Project. http://www.wm.edu/education

Huitt, W. (2004). Self-Concept and Self-esteem Citation:. Self-concept and self-esteem. Educational Psychology Interactive. www.chiom.valdesta.edu

Joan F, Smutney. (2004). Meeting the need of gifted underachievers individually. 2e Newsletter, Desember 2004. (gt-cybersource.org)

Kavale, KA., Mostert, MP. (2004). Social Skills Interventions For Individuals With Learning Disabilities. Learning Disability Quarterly; Winter 2004; 27, 1; ProQuest Psychology Journals pg. 31. (www.proquest.com)

Martin, G., Pear, J. (2003). Behavior Modification: What It Is and How To Do It. New Jersey: Prentice-Hall

McKay, M., Fanning, P. (2000). Self-esteem: A Proven Program of Cognitive Techniques for Assesing, Improving, and Maintaining Your Sel-Esteem. 3rd ed. Oakland: New harbinger Publication.

Papalia, D.E., Olds, S.W., Feldman, R.D., Gross, D. (2007). Human Development. 10th New York: McGrawHill

Peters. WA., VanBoxtel. HW. (1999). Irregular Error Pattern in Raven’s Standar Progressive Matrices: a sign of underachievement in testing situation?. High ability studies Vol 10, No. 2,

Robinson, Linda. (2006). Combining Achievement barriers for Adolescent Underachieving Learners. Journal of Cognitive Affective Learning, 2(2) (Spring 2006), 27-32 (dalam http://www.jcal.emory.edu)

Del Siegle & McCoah, DB. 2008. Understanding Underachievement: Recent Research on Underachievement. www.aare.edu.au

Shaffer, D.R. (2002). Developmental Psychology: Chilhood & Adolescence. 6th ed. California: Cole Pub

Stallard, Paul. (2002). Thin Good – Feel Good: A Cognitive Behaviour Therapy Workbook for Children and Young People. West Sussex-England: John Wiley & Sons

Trevallion, Deborah. (2008). Underachievement: A Model for Improving Academic Direction In Schools. (www.aare.edu.au)

Oxfordbrooks.ac.uk. (2006). Underachievement: What do We Mean by Underachievement?. Diakses pada 13 Maret 2008.

About these ads

9 thoughts on “Konsep Diri Siswa Underachiever

  1. artikel mas TArmidi bener-bener bagus…!!!
    two tumbs 4 U. sumber bacaannya juga bermutu dari jurnal luar negeri yang lengkap. keep writting……

    (Amalia, S.Psi – Universitas Surabaya)

  2. ass..
    terima kasih atas infonya dan sangat membantu kami dalam mecar refrensi yg valid terkait UA( underachiever)

    kami ingin share dan bertanya
    1. intervensi yang seperti apa yg dapat kita gunakan utk mengatasi siswa underachiever
    2. bagaimana membagun kesadaran orang tua siswa agar ikut serta dalam proses belajar dirumah?

    terimakasih

    • Sebelumnya terimakasih telah berkunjung ke blog saya..
      1. Intervensi yang pernah saya lakukan untuk siswa UA dengan menggunakan teknik terapi perilaku-kognitif (cognitive behavior therapy-CBT)..karena pada dasarnya siswa yang UA lebih banyak bermasalah pada konsep dirinya..maka konsep dirinya dahulu yang harus di-positif-kan. dan salah satu caranya dengan CBT tadi. Banyak cara yang bisa ditempuh, yang pada intinya adalah mengubah “mind set” mereka, menyadarkan mereka bahwa mereka sebenarnya siswa yang cerdas.
      2. Untuk membangun keasadaran orang tua, sebaiknya terus komunikasikan kemajuan belajar anak. jangan samapi orangtua baru mengetahui tentang anaknya pada saat pembagian rapor saja..bisa dengan mengundang orang tua pada acara sekolah (yang membahas pentingnya peranan orang tua dlm pendidikan anak)..juga bisa dilakukan dengan melibatkan orangtua untuk memberikan “ilmunya” untuk kepentingan sekolah..dsbnya..

      demikian semoga bisa membantu

      terimakasih

  3. Assalamualaykum pak Tarmidi,,,
    saya sedang menyusun skripsi tentang konsep diri akademik, mohon bantuan referensi terkait teori tersebut, beberapa site yang bp tuliskan di daftar referensi diatas tidak bisa diakses, terimakasih sebelumnya… ^_^

  4. Kyaknya ut termasuk underachiever dech…,, coz dari ciri-ciri, faktor-faktor & pexebabnya mirip dengan apa yg ut alami…
    klo sdah kyak gitu apa yg hrus ut lkukan….???

    • wah bagus kalo sudah memahami dirinya. kalo begitu sudah gampang untuk mengubahnya. Yang diperlukan selanjutnya adalah mengubah mind-set bahwa ut bukan individu yang biasa-biasa saja ataupun yang tidak berprestasi..yakinkan bahwa ut bisa mengubah pandangan tersebut dan berpikirlah positif. setiap orang punya kelebihan yang jika ditonjolkan akan membuatnya lebih unik dari yang lain..salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s