KESULITAN BELAJAR (LEARNING DISSABILITY) DAN MASALAH EMOSI


Kesulitan belajar adalah kondisi dimana anak dengan kemampuan intelegensi rata-rata atau di atas rata-rata, namun memiliki ketidakmampuan atau kegagalan dalam belajar yang berkaitan dengan hambatan dalam proses persepsi, konseptualisasi, berbahasa, memori, serta pemusatan perhatian, penguasaan diri, dan fungsi integrasi sensori motorik (Clement, dalam Weiner, 2003). Berdasarkan pandangan Clement tersebut maka pengertian kesulitan belajar adalah kondisi yang merupakan sindrom multidimensional yang bermanifestasi sebagai kesulitan belajar spesifik (spesific learning disabilities), hiperaktivitas dan/atau distraktibilitas dan masalah emosional. Kelompok anak dengan Learning Dissability (LD) dicirikan dengan adanya gangguan-gangguan tertentu yang menyertainya. Menurut Cruickshank (1980) gangguan-gangguan tersebut adalah gangguan latar-figure, visual-motor, visual-perceptual, pendengaran, intersensory, berpikir konseptual dan abstrak, bahasa, sosio-emosional, body image, dan konsep diri.

Tidak seperti cacat fisik, kesulitan belajar tidak terlihat dengan jelas dan sering disebut ”hidden handicap”. Terkadang kesulitan ini tidak disadari oleh orangtua dan guru, akibatnya anak yang mengalami kesulitan belajar sering diidentifikasi sebagai anak yang underachiever, pemalas, atau aneh. Anak-anak ini mungkin mengalami perasaan frustrasi, marah, depresi, cemas, dan merasa tidak diperlukan (Harwell, 2001).

B. Faktor penyebab Kesulitan Belajar

Ada beberapa penyebab kesulitan belajar yang terdapat pada literatur dan hasil riset (Harwell, 2001), yaitu :

1. Faktor keturunan/bawaan

2. Gangguan semasa kehamilan, saat melahirkan atau prematur

3. Kondisi janin yang tidak menerima cukup oksigen atau nutrisi dan atau ibu yang merokok, menggunakan obat-obatan (drugs), atau meminum alkohol selama masa kehamilan.

4. Trauma pasca kelahiran, seperti demam yang sangat tinggi, trauma kepala, atau pernah tenggelam.

5. infeksi telinga yang berulang pada masa bayi dan balita. Anak dengan kesulitan belajar biasanya mempunyai sistem imun yang lemah.

6. Awal masa kanak-kanak yang sering berhubungan dengan aluminium, arsenik, merkuri/raksa, dan neurotoksin lainnya.

Riset menunjukkan bahwa apa yang terjadi selama tahun-tahun awal kelahiran sampai umur 4 tahun adalah masa-masa kritis yang penting terhadap pembelajaran ke depannya. Stimulasi pada masa bayi dan kondisi budaya juga mempengaruhi belajar anak.  Pada masa awal kelahiran samapi usia 3 tahun misalnya, anak mempelajari bahasa dengan cara mendengar lagu, berbicara kepadanya, atau membacakannya cerita. Pada beberpa kondisi, interaksi ini kurang dilakuan, yang bisa saja berkontribusi terhadap kurangnya kemampuan fonologi anak yang dapat membuat anak sulit membaca (Harwell, 2001)

Sementara Kirk & Ghallager (1986) menyebutkan faktor penyebab kesulitan belajar sebagai berikut:

1. Faktor Disfungsi Otak

Penelitian mengenai disfungsi otak dimulai oleh Alfred Strauss di Amerika Serikat pada akhir tahun 1930-an, yang menjelaskan hubungan kerusakan otak dengan bahasa, hiperaktivitas dan kerusakan perceptual. Penelitian berlanjut ke area neuropsychology yang menekankan adanya perbedaan pada hemisfer otak. Menurut Wittrock dan Gordon, hemisfer kiri otak berhubungan dengan kemampuan sequential linguistic atau kemampuan verbal; hemisfer kanan otak berhubungan dengan tugas-tugas yang berhubungan dengan auditori termasuk melodi, suara yang tidak berarti, tugas visual-spasial dan aktivitas non verbal. Temuan Harness, Epstein, dan Gordon mendukung penemuan sebelumnya bahwa anak-anak dengan kesulitan belajar (learning difficulty) menampilkan kinerja yang lebih baik daripada kelompoknya ketika kegiatan yang mereka lakukan berhubungan dengan otak kanan, dan buruk ketika melakukan kegiatan yang berhubungan dengan otak kiri. Gaddes mengatakan bahwa 15% dari anak yang termasuk underachiever, memiliki disfungsi system syaraf pusat (dalam Kirk & Ghallager, 1986).

2. Faktor Genetik

Hallgren melakukan penelitian di Swedia dan menemukan bahwa, yang faktor herediter menentukan ketidakmampuan dalam membaca, menulis dan mengeja diantara orang-orang yang didiagnosa disleksia. Penelitian lain dilakukan oleh Hermann (dalam Kirk & Ghallager, 1986) yang meneliti disleksia pada kembar identik dan kembar tidak identik  yang menemukan bahwa frekwensi disleksia pada kembar identik lebih banyak daripada kembar tidak identik sehingga ia menyimpulkan bahwa ketidakmampuan membaca, mengeja dan menulis adalah sesuatu yang diturunkan.

3. Faktor Lingkungan dan Malnutrisi

Kurangnya stimulasi dari lingkungan dan malnutrisi yang terjadi di usia awal kehidupan merupakan dua hal yang saling berkaitan yang dapat menyebabkan munculnya kesulitan belajar pada anak. Cruickshank dan Hallahan (dalam Kirk & Ghallager, 1986) menemukan bahwa meskipun tidak ada hubungan yang jelas antara malnutrisi dan kesulitan belajar, malnutrisi berat pada usia awal akan mempengaruhi sistem syaraf pusat dan kemampuan belajar serta berkembang anak.

4. Faktor Biokimia

Pengaruh penggunaan obat atau bahan kimia lain terhadap kesulitan belajar masih menjadi kontroversi. Penelitian yang dilakukan oleh Adelman dan Comfers (dalam Kirk & Ghallager, 1986) menemukan bahwa obat stimulan dalam jangka pendek dapat mengurangi hiperaktivitas. Namun beberapa tahun kemudian penelitian Levy (dalam Kirk & Ghallager, 1986) membuktikan hal yang sebaliknya. Penemuan kontroversial oleh Feingold menyebutkan bahwa alergi, perasa dan pewarna buatan hiperkinesis pada anak yang kemudian akan menyebabkan kesulitan belajar. Ia lalu merekomendasikan diet salisilat dan bahan makanan buatan kepada anak-anak yang mengalami kesulitan belajar. Pada sebagian anak, diet ini berhasil namun ada juga yang tidak cukup berhasil. Beberapa ahli kemudian menyebutkan bahwa memang ada beberapa anak yang tidak cocok dengan bahan makanan.

C. Karakteristik Kesulitan Belajar

Menurut Valett (dalam Sukadji, 2000) terdapat tujuh karakteristik yang ditemui pada anak dengan kesulitan belajar. Kesulitan belajar disini diartikan sebagai hambatan dalam belajar, bukan kesulitan belajar khusus.

1. Sejarah kegagalan akademik berulang kali

Pola kegagalan dalam mencapai prestasi belajar ini terjadi berulang-ulang. Tampaknya memantapkan harapan untuk gagal sehingga melemahkan usaha.

2. Hambatan fisik/tubuh atau lingkungan berinteraksi dengan kesulitan belajar

Adanya kelainan fisik, misalnya penglihatan yang kurang jelas atau pendengaran yang terganggu berkembang menjadi kesulitan belajar yang jauh di luar jangkauan kesulitan fisik awal.

3. Kelainan motivasional

Kegagalan berulang, penolakan guru dan teman-teman sebaya, tidak adanya reinforcement. Semua ini ataupun sendiri-sendiri cenderung merendahkan mutu tindakan, mengurangi minat untuk belajar, dan umumnya merendahkan motivasi atau memindahkan motivasi ke kegiatan lain.

4. Kecemasan yang samar-samar, mirip kecemasan yang mengambang

Kegagalan yang berulang kali, yang mengembangkan harapan akan gagal dalam bidang akademik dapat menular ke bidang-bidang pengalaman lain. Adanya antisipasi terhadap kegagalan yang segera datang, yang tidak pasti dalam hal apa, menimbulkan kegelisahan, ketidaknyamanan, dan semacam keinginan untuk mengundurkan diri. Misalnya dalam bentuk melamun atau tidak memperhatikan.

5. Perilaku berubah-ubah, dalam arti tidak konsisten dan tidak terduga

Rapor hasil belajar anak dengan kesulitan belajar cenderung tidak konstan. Tidak jarang perbedaan angkanya menyolok dibandingkan dengan anak lain. Ini disebabkan karena naik turunnya minat dan perhatian mereka terhadap pelajaran. Ketidakstabilan dan perubahan yang tidak dapat diduga ini lebih merupakan isyarat penting dari rendahnya prestasi itu sendiri.

6. Penilaian yang keliru karena data tidak lengkap

Kesulitan belajar dapat timbul karena pemberian label kepada seorang anak berdasarkan informasi yang tidak lengkap. Misalnya tanpa data yang lengkap seorang anak digolongkan keterbelakangan mental tetapi terlihat perilaku akademiknya tinggi, yang tidak sesuai dengan anak yang keterbelakangan mental.

7. Pendidikan dan pola asuh yang didapat tidak memadai

Terdapat anak-anak yang tipe, mutu, penguasaan, dan urutan pengalaman belajarnya tidak mendukung proses belajar. Kadang-kadang kesalahan tidak terdapat pada sistem pendidikan itu sendiri, tetapi pada ketidakcocokan antara kegiatan kelas dengan kebutuhan anak. Kadang-kadang pengalaman yang didapat dalam keluarga juga tidak mendukung kegiatan belajar.

D. Klasifikasi Kesulitan Belajar

Menurut Kirk & Gallagher (1986), kesulitan belajar dapat dikelompokan menjadi dua kelompok besar yaitu developmental learning disabilities dan kesulitan belajar akademis. Komponen utama pada developmental learning disabilities antara lain perhatian, memori, gangguan persepsi visual dan motorik, berpikir dan gangguan bahasa. Sedangkan kesulitan belajar akademis termasuk ketidakmampuan pada membaca, mengeja, menulis, dan aritmatik. Pembagian tersebut dapat dilihat pada bagan berikut.

<!–[if mso & !supportInlineShapes & supportFields]> SHAPE \* MERGEFORMAT <![endif]–>

Learning Disability

(LD)

Developmental LD

Academic LD

Attention disorder

Memory Disorder

Gangguan persepsi

visual & motorik

Thinking disorder

Language Disorder

Reading difficulty

Mengeja

Menulis

Aritmatik

Organization Chart<!–[if mso & !supportInlineShapes & supportFields]> <![endif]–>

Bagan tipe kesulitan belajar (learning disabilities)

Sumber : Kirk, S.A, & Gallagher, J.J. (1986). Educating Exceptional Children 5th ed. Boston: Houghton Mifflin Company

D.’1. Developmental Learning Disabilities

D.1.a. Perhatian (attention disorder)

Anak dengan attention disorder akan berespon pada berbagai stimulus yang banyak. Anak ini selalu bergerak, sering teralih perhatiannya, tidak dapat mempertahankan perhatian yang cukup lama untuk belajar dan tidak dapat mengarahkan perhatian secara utuh pada sesuatu hal.

D.1.b. Memory Disorder

Memory disorder adalah ketidakmampuan untuk mengingat apa yang telah dilihat atau didengar ataupun dialami. Anak dengan masalah memori visual dapat memiliki kesulitan dalam me-recall kata-kata yang ditampilkan secara visual. Hal serupa juga dialami oleh anak dengan masalah pada ingatan auditorinya yang mempengaruhi perkembangan bahasa lisannya.

D.1.c. Gangguan persepsi visual dan motorik

Anak-anak dengan gangguan persepsi visual tidak dapat memahami rambu-rambu lalu lintas, tanda panah, kata-kata yang tertulis, dan symbol visual yang lain. mereka tidak dapat menangkap arti dari sebuah gambar atau angka atau memiliki pemahaman akan dirinya. Contohnya seorang anak yang memiliki penglihatan normal namun tidak dapat mengenali teman sekelasnya. Dia hanya mampu mengenal saat orang ybs berbicara atau menyebutkan namanya. Pada anak dengan gangguan persepsi motorik, mereka tidak dapat memahami orientasi kanan-kiri, bahasa tubuh, visual closure dan orientasi spasial serta pembelajaran secara motorik.

D.1.d. Thinking disorder

Thinking disorder adalah kesulitan dalam operasi kognitif pada pemecahan masalah pembentukan konsep dan asosiasi. Thinking disorder berhubungan dekat dengan gangguan dalam berbahasa verbal. Dalam penelitian oleh Luick terhadap 237 siswa dengan gangguan dalam berbahasa verbal yang parah, menemukan bahwa mereka memperlihatkan kemampuan yang normal dalam tes visual dan motorik namun berada di bawah rata-rata pada tes persepsi auditori, ekspresi verbal, memori auditori sekuensial dan grammatic closure.

D.1.e. Language Disorder

Merupakan kesulitan belajar yang paling umum dialami pada anak pra-sekolah. Biasanya anak-anak ini tidak berbicara atau berespon dengan benar terhadap instruksi atau pernyataan verbal.

D.2. Academic Learning Disabilities

Academic learning disabilities adalah kondisi yang menghambat proses belajar yaitu dalam membaca, mengeja, menulis, atau menghitung. Ketidakmampuan ini muncul pada saat anak menampilkan kinerja di bawah potensi akademik mereka.

E. Assesmen Formal dan Identifikasi Siswa Kesulitan Belajar

Harwell (2001) mengungkapkan bahwa sebaiknya assesmen dan identifikasi siswa berkesulitan belajar dilakukan oleh team yang terdiri dari berabagi disiplin ilmu, yaitu :

1. Psikolog sekolah: memperoleh informasi tentang kondisi keluarga, sosial, dan budaya, mengukur inteligensi dan perilaku melalui alat ukur yang terstandar, dan memperoleh gambaran tentang kelebihan dan kekurangan siswa.

2. Guru kelas dan orang tua: memberi informasi tentang perkembangan anak, keterampilan yang telah diperoleh anak, motivasinya, rentang perhatiannya, penerimaan sosial, dan penyesuaian emosional, yang dapat diperoleh dengan mengisi rating scale tentang perilaku anak.

3. Ahli pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus: melakukan penilaian akademik dengan menggunakan berbagai tes individual, mengobservasi siswa dalam situasi belajar dan bermain, melihat hasil pekerjaan siswa, dan mendiskusikan performa siswa denga guru dan orangtua.

4. Perawat sekolah :  memperoleh data perkembangan kesehatan siswa. Perawat bisa meminta siswa untuk menunjukkan aktivitas motorik sederhana, melakukan tes pendengaran dan penglihatan siswa, dan jika ada masalah kesehatan, perawat bisa mendiskusikannya ke dokter.

5. administrator sekolah: memfasilitasi pertemuan dengan pihak terkait dan menyediakan dana.

Dan terkadang juga melibatkan pihak lain seperti guru olahraga, terapis wicara, terapis okupasi, pekerja sosial, atau dokter anak.

Menurut Harwell (2001), ada beberapa aspek penilaian yang harus dilakukan dalam assesmen, yaitu:

1. Intelectual assesment.. Penilaian kemampuan intelektual ini meliputi:

§ IQ yang bisa diukur dengan tes inteligensi terstandar,

§ Peserpsi visual untuk melihat interpretasi otak terhadap apa yang dilihatnya, dapat diketahui dengan tes Visual Motor Integration (VMI) untuk anak usia 3-18 tahun atau The Bender Visual Motor Gestalt Test untuk usia 4-11 tahun

§ Persepsi Auditori untuk melihat kemampuan proses menerima informasi melalui stimulus auditori yang bisa dilakukan melalui observasi kelas atau tes-tes auditori.

§ Ingatan untuk melihat kemampuan anak dalam mengingat informasi yang diterimanya, bisa diketahui melalui subtes digit span WISC atau tes lainnya.

2. Academic assesment.

Penilaian ini dilakukan untuk menilai kemampuan membaca/mengeja, menulis, dan berhitung yang dapat dilihat melalui test terstandar, observasi kelas dan saat bermain atau hasil kerjanya sehari-hari.

3. Language assesment

Penilaian ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan bahasa anak yang meliputi pengetahuan terhadap arti kata, pengetahuan untuk meletakkan kata dalam kalimat, dan kemampuan memanipulasi kata sehingga memiliki arti yang bermakna. Penilaian dapat dilakukan dengan:

§ Melihat hasil kerja anak dan bagaimana ia merespon huruf, kata, dan kalimat.

§ Bahasa yang diucapkan, seberapa banyak kosa katanya, apakah kata yang dipilihnya sesuai atau tidak.

§ Mendengar, apakah anak dapat mendengar dan mengikuti pembicaraan.

§ Observasi percakapannya dengan teman-teman sebayanya, dengan yang lebih muda, dengan yang lebih tua. Apakah Ia bisa menyesuaikan bahasa yang tepat.

4. Health assesment. Penilaian ini dilakukan untuk mengetahui riwayat kesehatan siswa.

5. Behavior assesment. Penilaian perilku ini dilakukan untuk melihat dampak perilaku anak terhadap keberhasilannya di sekolah., yang dapat dilakukan melalui observasi, wawancara dengan orangtua dan guru, penggunaan rating scale, penggunaan inventori keprbadian, dan tes proyektif. Ketika menilai perilaku siswa, ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan, yaitu:

§ Kemampuan komunikasi siswa

§ Pengetahuan mereka akan komunitasnya

§ Kemampuan untuk mengarahkan diri (self directing)

§ Kesadaran akan kesehatan dan keselamatan

§ Kemampuan untuk menjaga diri sendiri

§ Perkembangan kemampuan sosial

§ Kebiasaan kerja dan kesadaran akan pekerjaannnya

§ Penggunaan waktu luang

Pengasuhan (Parenting)

Proses parenting terdiri dari melahirkan, melindungi, merawat, dan mengarahkan anak.Dari berbagai penelitian yang telah dilakukan, menunjukkan bahwa pengasuhan disadari sebagai pengalaman penting kehidupan manusia yang dapat berpengaruh secara emosi, sosial, dan intelektual. Proses ini mempengaruhi orang-orang yang ada di sekitarnya – orang tua, anak, dan masyarakat (Martin & Colbert, 1997).

Pengasuhan adalah proses yang kompleks daripada tampilannya di permukaan. Karakteristik orang tua dan anak yang unik, dan suasana (setting) interaksinya, akan saling mempengaruhi (lihat bagan). Pengaruh tersebut bisa langsung, seperti respon orangtua terhadap senyum anaknya. Di lain sisi, pengaruh tersebut juga tidak langsung, contohnya orangtua yang memiliki kepuasan terhadap pekerjaan mereka lebih memiliki energi emosi yang positif terhadap anak-anaknya.

Karakteristik Orangtua

§ Kepribadian

§ Sejarah perkembangan

§ Kepercayaan (beliefs)

§ Pengetahuan

§ Gender

Konteks

§ Jaringan sosial (social network)

§ Situasi kerja (work setting)

§ Hubungan perkawinan

§ Struktur keluarga

§ Status sosial ekonomi

§ kebudayaan

Karakteristik Anak

§ Temperamen

§ Gender

§ Kemampuan (abilities)

§ Usia

P A R E N T I N G

Adult Development

Child Development

Pengaruh-pengaruh dalam pengasuhan (Influences on Parenting)

Sumber : Martin, C.A., Colbert, K.K.1997. Parenting A Life Span Perspective. New York : McGraw-Hill

Ketika seseorang menjadi orangtua, mereka membawa kombinasi sifat-sifat pribadi (personal traits) dan pengalaman-pengalamannya. Individu yang menjadi orang tua tersebut mempunyai tingkatan kematangan, energi, kesabaran, kecerdasan, dan sikap. Karakteristik ini akan mempengaruhi kepekaan mereka terhadap kebutuhan anak, harapan terhadap diri mereka sendiri dan anak-anaknya, dan kemampuan mereka untuk melaksanakan tuntutan peran pengasuhan (Dix dalam Martin & Colbert, 1997)

Orangtua mempunyai ide tersendiri tentang bagaimana anak berkembang, belajar, dan perasaan terhadap proses pengasuhan. Kepercayaan ini merupakan dasar berpikir untuk merawat anaknya. Kepercayaan tersebut meliputi tahapan perkembangan, ide akan pentingnya pengaruh keturunan (heredity) dan lingkungan, harapan akan hubungan orangtua – anak, dan pikiran mengenai apa mendasari pengasuhan yang  baik dan yang buruk (Goodnow & Collins, 1990; McGillicuddy-DeLisi & Sigel, 1995 dalam Martin & Colbert, 1997).

Pola Asuh Orang Tua

Kompetensi sosial dan performa akademik seorang anak berhubungan dengan pola asuh yang diterapkan orangtua (Papalia & Olds, 1995). Menurut Diane Baumrind (dalam Berns 1997), ada tiga macam pola asuh.

a.   Pola asuh autoritharian

Biasanya tampak pada orangtua yang sangat menuntut kontrol perilaku dan sopan santun, sesuai dengan aturan-aturan ketat dan harapan yang ditetapkan oleh mereka sendiri. Anak diharapkan untuk patuh, dan standar orangtua diterapkan secara keras, memaksa, dan melalui hukuman-hukuman. Pola asuh seperti ini dapat menghalangi anak untuk berkembang secara maksimal sesuai dengan potensinya, dan mempengaruhi kemampuan anak untuk dapat membuat keputusan sendiri. Anak dapat merasa frustrasi, kesal, maral, dan menjadi tidak berani, tergantung, dan merasa tidak yakin pada dirinya sendiri.

a. Pola asuh autoritatif

Tampak di mana kontrol yang kuat dilatih dan diterapkan dengan cara yang penuh kasih sayang dan dalam suasana yang mendukung. Tujuan orangtua adalah menghargai dan meningkatkan kebebasan dan kemandirian anak, sekaligus memastikan bahwa perilaku mereka sesuai dengan standar yang ada di masyarakat. Pada pola ini, ada proses memberi dan menerima secara verbal, kontrol diberikan berdasarkan strategi yang rasional dan berorientasi pada masalah, serta orangtua bersedia memberikan penjelasan kepada anak tentang keputusan-keputusan yang diambil oleh orangtua.

Orang tua ini fleksibel namun tegas, memelihara kontrol dan disiplin namun memberikan alasan yang tepat untuk disiplin tersebut. Mereka juga mengkomunikasikan harapan-harapan mereka untuk anaknya, namun memberi kesempatan untuk berdiskusi. Disiplin yang mereka terapkan juga menekankan tanggung jawab, kerja sama, dan pengaturan diri.

Pola asuh seperti ini cenderung menghasilkan anak yang kompeten, memiliki tanggung jawab secara sosial, yakin pada dirinya, dan mandiri. Pada kondisi yang positif seperti inilah anak dapat mengembangkan rasa percaya diri yang tinggi dan konsep diri yang positif.

b. Pola asuh permisif

Orangtua yang permisif biasanya menghargai ekspresi diri dan pengaturan terhadap diri sendiri. Mereka tidak banyak memberi tuntutan, mengijinkan anak untuk sebanyak mungkin memonitor aktivitas mereka sendiri. Mereka memandang dirinya sebagai sumber (resources), menghindari diberlakukannya kontrol, dan tidak mendorong anak untuk mematuhi peraturan yang ditentukan oleh pihak eksternal. Mereka tidak mengontrol, tidak menuntut, dan cukup hangat. Namun demikian, anak biasanya akan tetap merasa tidak puas karena merasa tidak nyaman tanpa adanya kontrol, sehingga ia memberikan banyak energi pada usaha untuk mengontrol orangtua dan mencoba membuat orangtua mengontrol mereka. Hasilnya, anak menjadi tidak mampu menghadapi rasa frustrasi, mengalami kesulitan dalam menerima tanggung jawab, tidak dewasa secara sosial-emosional, dan kurangnya kontrol diri serta rasa percaya diri.

Gangguan Emosi

National Dissemination Center for Children with Disabilities dalam (http://www.nichcy.org ) menyatakan bahwa gangguan emosi (emotional disturbance)“ adalah kondisi yang menunjukkan adanya satu atau lebih karakteristik berikut yang terjadi pada periode yang cukup lama yang berpengaruh terhadap performa akademis anak. Kondisi tersebut adalah:

1. Ketidakmampuan untuk belajar yang tidak berhubungan dengan kecerdasan, sensori ataupun kesehatan.

2. Ketidakmampuan untuk membangun atau menjaga hubungan interpersonal dengan teman-teman sebaya dan guru.

3. Perilaku atau perasaan yang tidak sesuai pada kondisi lingkungan yang normal.

4. Adanya perasaan tidak senang atau depresi yang menetap.

5. Adanya kecenderungan simptom fisik atau ketakutan.

Karakteristik anak yang mengalami gangguan emosi

Penyebab gangguan emosional tidak bisa ditentukan dengan pasti, meskipun beberapa faktor seperti keturunan, kerusakan otak, diet, stress, dan keluarga mungkin menjadi penyebabnya, penelitain tidak menunjukkan faktor-faktor tersebut menjadi penyebab utama gangguan emosi. Karakteristik anak yang mengalami gangguan emosi dapat dilihat sebagai berikut:

Hyperactivity (attensi yang rendah, impulsif)

Aggression behavior (berkelahi)

Withdrawal (kurang dapat menginisiasi interaksi dengan orang lain, cemas)

from exchanges or social interaction, excessive fear or anxiety);

Immaturity (Menangis yang tidak jelas, temper tantrums, poor coping skills); and

Learning difficulties (prestasinya rendah)

Sementara itu, Cooper (dalam Farrel, 1995) menyatakan bahwa gangguan emosi adalah hasil interaksi yang kompleks antara faktor kontekstual dan aspek yang dibawa individu pada situasi tertentu. Konteks yang berpengaruh dalam hal ini adalah rumah, sekolah, dan kepribadian anak sendiri. Pada lingkungan rumah, terdapat beberapa pengalaman yang mungkin terjadi pada anak, antara lain:

- kurangnya perhatian orangtua terhadap sekolah

-    penerapan disiplin yang tidak konsisten

-    kurangnya atau lebihnya afeksi orangtua terhadap anak

-    adanya sikap permusuhan atau penolakan di rumah

-    kekerasan orangtua yang terlihat oleh anak

-    hukuman yang diberikan orangtua

-    penelantaran oleh orangtua

-    ketidakhadiran orangtua dalam mendidik anak

Farrel (1995) sendiri menyatakan bahwa anak yang mengalami gangguan emosi dan perilaku adalah terlihat pada gejalagejala berikut:

-     Adanya perbedaan yang signifikan antara kemampuan kognitifnya dengan prestasi yang dicapainya.

-     Anak biasanya menarik diri, kurang percaya diri, ataupun tidak mampu menjalin persahabatan dengan teman sebaya dalam waktu yang lama.

-     Sulit dalam hubungan sosial

-     Jarang hadir ke sekolah

-     Mempunyai kebiasaan makan yang obsesif

-     Anak sulit diprediksi, bizarre, obsesif, melakukan kekerasan

-     Berpartisipasi dalam perilaku bulliying

Konsep diri pada anak

Konsep diri adalah persepsi individu terhadap dirinya yang dibentuk melalui pengalaman dan bagaimana interpretasi individu tersebut terhadap ingkungannya (Shavelson dalam Bracken, 1996) Konsep diri yang terbentuk tersebut dipengaruhi oleh penilaian orang-orang signifikan terhadap individu, penguatan atas perilaku, dan atribusi individu terhadap perilakunya sendiri. Menurut Shavelson (dalam Bracken, 1996), konsep diri bukanlah entitas yang terdapat pada diri seseorang, melainkan konstruk hipotesis yang digunakan untuk menjelaskan dan memprediksi bagaimana seseorang bertindak. Konsep diri yang baik akan terlihat dari (www.virginiatech.com):

  • Merasa diterima oleh orang lain
  • Memiliki kompetensi
  • Percaya diri
  • Merasa aman
  • Merasa disenangi
  • Merasa berharga
  • Merasa bebas
  • Menerima diri sendiri

Anak yang merasa konsep dirinya baik, akan merasa puas dengan kehidupannya dan akan berpikir bahwa dunia adalah  tempat yang menarik. Konsep diri yang baik juga akan membuat anak mampu menerima tanggung jawab untuk meraih prestasi di sekolah, dan tumbuh menjadi pribadi yang produktif di lingkungannya (www.virginiatech.com).

Perilaku agresif pada anak

Anak yang berperilaku agresif, biasanya berlawanan dengan orang lain, melibatkan diri dalam perkelahian atau memulai perkelahian. Anak yang bertipe ini biasanya dilihat sebagai bully dan cenderung memiliki sedikit teman. Biasanya anak yang seperti ini lebih senang menyelesaikan permasalahan dengan berkelahi (www.about.com). Sementara itu, Renfrew (1997) lebih memfokuskan pada istilah agresi yang didefinisikan sebagai perilaku yang diarahkan individu untuk membuat orang lain berada pada kondisi yang membahayakan.

Menurut Bandura (dalam Renfrew, 1997), perilaku agresif diperoleh dari pengaruh lingkungan. Modelling merupakan pemerolehan yang penting dalam munculnya perilaku agresif, meskipun juga disebabkan oleh adanya penguatan. Efek daari medelling memang tidak otomatis, individu harus menggunakan mekanisme memori dan terjadi berulang sehingga perilaku agresi tersebut muncul. Ada tiga sebab yang dapat membuat individu memunculkan perilaku agresifnya melalui modelling, yaitu:

1). Keluarga. Orangtua yang melakukan hukuman misalnya, tanpa sadar sudah menyatakan pada anak-anaknya bahwa perilaku agresif adalah salah satu cara mengahdapi kehidupan.

2).  Subkultur. Jika anak tinggal pada daerah atau lingkungan yang sering berperilaku agresif,  anak juga akan berperilaku sama agar bisa mengikuti lingkungannya.

3). Model simbolik. Model ini biasanya didapatkan anak melalui media televisi dan film yang mengandung kekerasan.

Referensi

Bracken, B.A. (1996). Handbook of Self Concept: Developmental, Social, and Clinical Consideration. Canada: John Wiley & Sons.

Cruickshank, W.M. (1980). Psychology of Exceptional Children and Youth. New York: Prentice Hall Inc.

Farrel, Peter. (1995). Children with Emotional and Behavioural Difficulties: Strategies for assesment and Intervention. London : The Falmer Press.

Harwell, JM. (2001). Complete Learning Disabilities Handbook. 2nd ed. San Fransisco: John Wiley & Sons

Kirk, S.A, & Gallagher, J.J. (1986). Educating Exceptional Children 5th ed. Boston: Houghton Mifflin Company

Mangunsong, F. (1998). Psikologi dan Pendidikan Anak Luar Biasa. Depok: LPSP3

Martin, C.A., Colbert, K.K.(1997). Parenting A Life Span Perspective. New York : McGraw-Hill

Renfrew, J.W. (1997). Agrression and Its Causes. New York: Oxford University Press

Weiner, IB. (2003). Handbook of Psychology. Vol 7 : Educational Psychology. New Jersey: John Wiley & Sons

www.nichyci.org

www.virginiatech.com

About these ads

8 thoughts on “KESULITAN BELAJAR (LEARNING DISSABILITY) DAN MASALAH EMOSI

  1. q minta tlong tulisin nama buku-buku yang dipake diatas buat referensiku mas,,,,,tlong yah,,nama pengarangnya sapa tahun,,,buat daftar pustakanya,,,pliizzzzz

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s